ANALISIS ANTROPOLOGIS NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK

Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari sempat ‘mengguncang’ jagat sastra Indonesia pada dekade 1980-an. Ronggeng Dukuh Paruk merupakan sebuah novel fenomenal yang laris di pasaran.  Novel ini dikarang oleh penulis Indonesia asal Banyumas, Ahmad Tohari, dan diterbitkan pertama kali tahun 1982. Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara Srintil, seorang penari ronggeng, dan Rasus, teman sejak kecil Srintil yang berprofesi sebagai tentara. Pada penerbitan pertama, novel ini terdiri atas tiga buku (trilogi), yaitu Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Novel ini telah diadaptasi ke dalam film Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) dan Sang Penari (2011). Pada 2014, Ronggeng Dukuh Paruk diterbitkan dalam bentuk audio menggunakan suara Butet Kartaredjasa. Hingga saat ini, Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.

Ronggeng Dukuh Paruk mengangkat latar Dukuh Paruk yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Dawuhan., desa kecil yang dirundung kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan. Latar waktu yang diangkat dalam novel ini adalah tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.

Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari ini berdasarkan kajian ilmu interdesipliner antropologi sastra, akan dijelaskan dulu mengenai karya sastra novel.  Menurut KBBI (2010), novel adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang yang berada di sekelilingnya dan menonjolkan watak (karakter) dan sifat setiap pelaku. Novel terdiri dari bab dan sub-bab tertentu sesuai dengan kisah ceritanya. Penulis novel disebut novelis.

Dalam menganalisis unsur kebudayaan dalam sastra, Koentjaraningrat (1992) membatasi unsur kebudayaan menjadi tujuh bagian yaitu: pertama, peralatan kehidupan manusia seperti; rumah, pakaian, alat-alat rumah tangga, dan berbagai peralatan yang dikaitkan dengan kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, mata pencaharian seperti; pertanian, peternakan, perikanan dengan sistem ekonomi dan produksinya masing-masing. Ketiga, kesenian dengan berbagai jenisnya seperti; seni rupa, seni suara, seni gerak. Keempat, sistem religi berbagai bentuk pengalaman manusia dalam kaitannya dengan subjektivitas, keyakinan, dan berbagai kepercayaan. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk terlihat masih adanya pengaruh budaya Jawa terutama daerah Banyumas yang sangat kental

Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah bahasa Indonsia dengan . Bahasa yang mencerminkan ciri khas budaya masyarakat tertentu akan tampak dari istilah-istilah kedaerahan yang dimiliki budaya lain. Dalam novel ini  istilah bahasa yang digunakan menggambarkan kebudayaan Jawa dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada penggunaan kata atau kalimat berikut

1 Ronggeng merupakan jenis kesenian tari Jawa di mana pasangan saling bertukar ayat-ayat puitis saat mereka menari diiringi musik dari rebab atau biola dan gong. Ronggeng mungkin berasal dari Jawa, tetapi juga dapat ditemukan di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Di Jawa, penampilan ronggeng tradisional menampilkan rombongan tari perjalanan yang berjalan dari desa ke desa. Pasukan tari terdiri dari satu atau beberapa penari wanita profesional, disertai oleh sekelompok musisi memainkan alat musik: rebab dan gong. Istilah “ronggeng” juga diterapkan untuk penari wanita.

2 Dukuh adalah sekumpulan pemukiman yang berdekatan dan tidak dibatasi oleh suatu lahan bukan pemukiman. Secara umum, desa di Jawa merupakan sekumpulan pemukiman (dusun) yang dipisahkan oleh sungai, persawahan, ladang, kebun, atau hutan. Desa mencakup semua wilayah ini. Padukuhan atau Pedukuhan adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia yang berkedudukan di bawah Kelurahan atau Desa. Orang yang memimpin padukuhan disebut sebagai kepala dukuh. Istilah ini kembali digunakan di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur, setelah pada masa Orde Baru, istilah padukuhan diganti dengan Dusun.

3 Bromocorah atau bramacorah  berarti orang yang melakukan pengulangan tindak pidana; residivis. Kata ini juga diartikan sebagai penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan, seperti merampok

4 Sak madya yang berarti keserbawajaran atau jalan tengah. Dalam masyarakat Jawa segala sesuatu dalam kehidupan disarankan agar dilakukan dalam batas-batas kewajaran, tidak berlebih-lebihan atau tidak melampaui batas.

5 ”Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah menentukan kami hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini. (hlm. 185).
Ungkapan ’murbeng dumadi’ (‘Yang Mahakuasa’) dimanfaatkan oleh Tohari selain memang untuk menciptakan setting budaya Jawa juga membawa muatan makna relegius. Bahwa manusia sebenarnya tidak akan terlepas dari kehendak Tuhan. Manusia tidak akan mungkin melawan kemahakuasaan Tuhan. Artinya, jika manusia telah berusaha kera sekuat tenaga untuk mencapai sesuatu maka hasilnya diserahkan kepada Tuhan.

6 Peribahasa ”Aja dumeh maring wong sing lagi kanggonan luput,…..” yang dapat diartikan “Jangan semena-mena terhadap orang yang (sedang terlanjur) berbuat kesalahan“.

 

Religi

Dalam novel ini, digambarkan para penduduk desa Paruk masih memiliki kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang harus dipuja. Konon, keracunan massal dipercayai sebagai akibat murka Ki Secamenggala karena warganya mulai kendor dalam memujanya. Jadi, adat istiadat Jawa masih terasa kental.

Kearifan lokal dalam novel ini banyak yang memiliki hubungan intertekstualitas dengan ajaran Islam yang termaktub dalam al-Quran dan al-Hadits. Hal ini mudah dipahami mengingat Tohari –seperti yang dikatakannya sendiri— adalah orang Jawa Islam. Oleh karena itu karya sastra yang lahir dari tangannya merupakan refleksi dirinya –sebagai orang Jawa yang beragama Islam– terhadap lingkungannya. Lebih dari itu, berbagai nilai kearifan lokal yang berbasis budaya Jawa menurut para pengamat budaya memang banyak yang bersumber pada ajaran Islam.

Unsur religi berkaitan dengan unsur budaya karena kepercayaan ini dianut secara turun temurun sehingga menjadi budaya masyarakatnya. Unsur religi dalam novel ini terdapat pada ungkapan local yang dipakai untuk  menjelaskan nilai moral tertentu

1 Sikap Arif Menghadapi Orang Khilaf

Hal ini tampak pada kalimat : Nurani sejarah bisa juga menampakkan diri sebagai falsafah orang-orang bersahaja yang suka berkata, ”Aja dumeh maring wong sing lagi kanggonan luput,…..”. (hlm. 286)

2 Menyeru kebaikan dan mencegah kejahatan. Tohari mengajak pembaca melalui karya seni budaya, novel RDP, untuk tetap bersikap arif, ramah, dan membantu orang-orang yang pernah berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Tohari menutup cerita novel ini dengan sebuah kalimat transendental yang mendalam maknanya, yakni untuk menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan Sang Khalik.

Dukuh Paruk harus kubantu menemukan dirinya kembali, lalu kuajak mencari keselarasan di hadapan Sang Wujud yang serba tanpa batas. (hlm. 395)

3 Manusia yang bagaimanapun buruk perilakunya, memiliki peluang untuk bertobat kepada Tuhan.

Dan kemudian Srintil dengan nilai kemanusiaannya sendiri merasa selera agung, meski tanpa sepatah kata jua, membuka pintunya bagi segala manusia dan kepada tiap-tiap jiwa untuk masuk menyelaraskan diri kepadanya. (hlm. 355)

 

Mata Pencarian

Mata pencarian yang ditemukan dalam Novel Ronggong Dukuh Paruk yaitu petani, penari/ronggeng, pembuat tempe bongkrek, gobang (pembantu tentara), tentara, penjual singkong dan pamong desa.

 

Musik Tradisional

Kearifan lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang tidak kalah nilainya adalah musik tradisional Siter yang merupakan seni musik khas Jawa yang kini mulai jarang dimainkan orang. Tohari memanfaatkan citraan intelektual untuk mengingatkan pembaca akan genre musik tradisional yang mulai langka dan jarang terdengar namun sebenarnya memiliki daya artistik yang tinggi. Genre musik itu merupakan bagian dari khasanah budaya nasional yang sebenarnya layak dilestarikan karena daya artistiknya yang mampu membawa pendengarnya hanyut dalam pikiran dan perasaannya. Musik itu bahkan mampu membuat pendengarnya terbuai dalam fantasi yang sentimenatl, melakukan introspeksi, melihat ke dalam dirinya sendiri, mengkhayal ke masa-masa lalu pada masa yang paling indah dalam hidupnya.

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *