NASIB SEKOLAH SWASTA DI TENGAH PANDEMI

Sekolah swasta di masa pandemi ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah selama ini kembang kempis mengurus keberlangsungan sekolah, ditambah pula dengan hadirnya wabah covid-19 yang menggerogoti kemampuan keuangan sekolah yang menjadi penopang oparsional sekolah.

Sebelum pandemi pun, sekolah swasta banyak yang tutup dan tumbuh pula sekolah baru. Ada yang terus tumbuh dan berkembang. Tak jarang yang redup dan menghilang. Yang sudah kembang-kempis, adanya covid-16 mempercepat ajalnya saja. Bagi sekolah swasta yang mampu bertahan dalam situasi pandemi menjadi batu ujian apakah mampu bertahan dan terus melangsungkan layanan pendidikan atau menyerah dengan keadaan.

Sangat sedih beberapa sekolah berasrama mengabarkan ketidaksanggupannya mempertahankan guru pembina asrama. Karena, beberapa bulan anak-anak dipulangkan dari asrama. Sementara pihak lembaga merumahkan guru dengan alasan tidak ada pemasukan dari biaya asrama. Bagaimana dengan pondok? Setali tiga uang dengan sekolah berasrama, mungkin akan melakukan pemotongan biaya yang terkait dengan operasional asrama.

Belum lagi wacana yang kerap dilontarkan orang tua yang menganggap bahwa belajar di rumah berarti mengurangi biaya iuran sekolah, menambah beban psikologis guru dan penyelenggara sekolah. Sebagian besar sekolah swasta mengandalkan pemasukan dari donasi orang tua dalam bentuk iuran sekolah. Sudah diketahui umum bahwa, pembayaran orang tua murid tidak selalu tepat waktu. Bahkan sekolah kerap menanggung piutang iuran yang tidak sedikit. Sementara pengeluaran rutin, seperti honor guru dan pegawai, listrik, air pam, dan pengeluaran tetap lainnya harus dibayar tepat waktu. Sebab itu, pengelola sekolah harus jeli dalam mengatur keuangan agar pelayanan pendidikan berlangsung lancar.

Ada dana BOS yang bisa dipergunakan untuk operasional sekolah. Dana tersebut tidak dapat menutup biaya sekolah secara keseluruhan. Apalagi BOS pencairannya pertriwulan sehingga tidak bisa diandalkan untuk honor guru atau keperluan lainnya.

Sekolah yang menjalin hubungan yang baik dengan orang tua, biasanya komunikasi mengenai penyelenggaraan sekolah tidak mengalami banyak kendala. Bagaimana dengan sekolah yang memiliki komunikasi yang buruk dengan orang tua, bisa jadi keadaan ini menjadi semakin rumit. Orang tua yang kesulitan membayar iuran sekolah tidak mendapatkan akomodasi yang memadai dari sekolah. Demikian pula sebaliknya, orang tua tidak bisa memahami kondisi sekolah yang membutuhkan keberlangsungan pelayanan pembelajaran.

James Tooley (2013) dalam bukunya “Sekolah Untuk Orang Miskin” menyebutkan bahwa orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta dengan kesadaran bahwa sekolah swasta memberikan pelayanan lebih baik dari sekolah negeri. Anggapan ini muncul justru muncul dari orang tua yang kondisi ekonominya lemah. Berdasarkan beberapa penelitiannya, terdapat sekolah swasta yang menampung anak-anak kurang mampu dengan bayaran yang terbilang tidak mahal namun juga tidak murah untuk ukuran keluarga berpenghasilan rendah.

Apakah ini pula yang menjelaskan orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang bukan karena alasan tidak diterima di sekolah negeri? Sehingga mereka memilih sekolah karena hasil kesadaran sendiri? Dengan demikian, situasinya akan mendukung program sekolah di tengah pandemi.

Sekolah swasta yang mampu mengedepankan layanan pendidikan yang prima baik yang telah dilangsungkan sebelum dan selama pandemi akan menemukan sendiri bagaimana totalitas guru dalam membimbing anak-anak. Namun, sekolah yang hanya mengutamakan kebutuhannya sendiri akan sulit mengajak orang tua bergotong royong menjalankan pembelajaran bagi anak. Contohnya, sekolah yang sibuk menagih SPP namun kurang memperhatikan kebutuhan belajar murid. Apalagi guru ikut terlibat dalm urusan administrasi atau keuangan sekolah, ini justru memperumit posisi sekolah di hadapan orang tua. Saat ini, justru guru sebaiknya fokus bagaimana mengelola pembelajaran yang efektif sehingga anak-anak mampu mengikuti pembelajaran tanpa kendala tatap muka.

Saat ini, guru-guru sekolah swasta saatnya menampilkan keterampilannya mengajar melalui berbagai sarana. Semua orang tua kini tahu bagaimana interaksi yang disiapkan oleh guru terhadap anak-anak mereka. Guru yang hanya bisa memberi soal tanpa memberi bimbingan akan berbeda dengan guru yang mampu mengelola kelas jarak jauh secara efektif.

Dan untuk itulah orang tua membayar iuran sekolah. Sebagian besar bukan membayar untuk gedung, air, listrik atau fasilitas lain. Yakni untuk guru yang hadir memberikan bimbingan selama belajar di rumah. Yang untuk itu pula orang tua tidak bisa mengambil perannya. Bukan begitu?

*) Eka Wardana, guru PKn dan IPS, penggerak Komunitas Guru Belajar, Bogor.

Ilustrasi : https://www.republika.co.id/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *